Tangerang Selatan, (beritairn.com) – Diabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit degeneratif yang ditandai tingginya kadar gula darah yang sering disertai gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin.

Insufisiensi fungsi insulin sendiri dapat disebabkan oleh gangguan pada produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin. Penyakit ini terus mengalami peningkatan di Indonesia, bahkan di seluruh dunia.

Ada 2 faktor risiko atas penyakit DM ini, yakni faktor risiko yg bisa diubah dan tidak bisa diubah. Faktor yang bisa diubah antara lain ; kegemukan, kurang aktivitas fisik, dislipidemia, riwayat penyakit jantung, hipertensi, hingga diet tak seimbang.

Sedang faktor yang tidak bisa diubah yakni, usia lebih dari 40 tahun, riwayat keturunan DM, kehamilan dengan gula darah tinggi, bayi lahir kurang dari berat 2,5 kilo dan ibu dengan riwayat melahirkan bayi dengan berat di atas 4 kilo.

Dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Umum (RSU) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), dr Harry Andrean, Sp PD, menerangkan jika penyakit DM sebenarnya bisa dicegah dengan beberapa metode, antara lain pencegahan primer, sekunder dan tertier.

“Pencegahan itu kan dibagi-bagi, ada pencegahan primer untuk orang yang belum menderita diabetes. Primer, jadi orangnya masih sehat belum terdiagnosa DM, nah ini lah yang penting mulai dari menanamkan olah raga rutin, makan minum yang sehat,” katanya di RSU Tangsel, Rabu (26/07/23).

“Nah bebeda nanti dengan sekunder, pencegahan sekunder ini untuk orang-orang yang sudah dapat diabetesnya. Jadi sebenarnya kita yang tidak bergejala sekarang ini belum tentu kita nggak diabetes. Caranya apa? deteksilah sesegera mungkin apakah kita menderita diabetes atau tidak, caranya rutin screening,” imbuhnya.

Sedang pencegahan tertier, kata dia, adalah mencegah dampak DM meluas pada mereka yang sudah menderita diabetes tingkat lanjut. Biasanya hal yang diantisipasi adalah serangan komplikasi dari ujung rambut hingga ujung kaki.

“Orang yang udah rutin pakai obat, udah pakai suntik insulin, udah berobat rutin. Apa yang kita cegah? kita cegah biar dia nggak komplikasi. Komplikasi diabetes ini mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki bisa. Mulai dari stroke, gangguan penglihatan, jantung koroner, gagal ginjal, dan juga kaki diabetes yg bisa sampai diamputasi,” terangnya.

Pencegahan DM dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan rendah gula tinggi serat, berolah raga rutin dengan jalan sehat, senam, bersepeda, yoga, berenang, dan juga meninggalkan praktik merokok serta minuman beralkohol.

“Bagi kita yang masih sehat, pertahankan dengan pencegahan primer tadi,” ucapnya.

Pasien penderita DM sendiri memang mendominansi paling banyak di poli penyakit dalam RSU Tangsel. Prosentasenya mencapai 80 hingga 90 persen dari semua pasien yang berkunjung ke poli penyakit dalam.

“Setiap kita buka poli itu hampir 80-90 persennya itu diabetes,” tandasnya.(red)