Deep Learning Diterapkan, SMPN 12 Tangsel Akui Harus Berbagi Fokus dengan TKA

0
463

Tangerang Selatan, (beritairn.com) – Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) mulai diterapkan di SMPN 12 Kota Tangerang Selatan. Namun di tengah upaya mendorong pemahaman siswa secara menyeluruh, sekolah juga mengakui harus menyesuaikan dengan tuntutan Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Kepala SMPN 12 Kota Tangerang Selatan, Mulmis Wariyanti, mengatakan penerapan deep learning telah mengubah peran siswa dalam proses belajar. Kini, siswa tidak lagi sekadar menjadi objek, tetapi terlibat aktif dalam pembelajaran.

Menurutnya, pembelajaran diarahkan pada penguatan dasar seperti pemahaman konsep melalui peta materi, sekaligus mengembangkan aspek olah pikir, olah rasa, dan olah raga siswa.

“Pembelajaran juga menanamkan kemandirian, kolaborasi, komunikasi, penalaran kritis, dan kreativitas,” ujar Mulmis di SMPN 12 kota Tangsel.

Perubahan juga terasa pada metode mengajar guru. Proses belajar kini dimulai dengan membangun motivasi siswa dan mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari.

Guru juga menerapkan berbagai strategi aktif, seperti diskusi, eksperimen, proyek, dan studi kasus. Di akhir pembelajaran, dilakukan refleksi dan rangkuman bersama sebagai bagian dari penguatan materi.

“Guru menciptakan suasana belajar yang mendukung, baik dari alur kegiatan maupun asesmen yang dilakukan,” kata Mulmis.

Dari sisi siswa, respons yang ditunjukkan dinilai positif. Siswa menjadi lebih aktif, terlibat dalam praktik langsung, hingga presentasi hasil belajar.

Model pembelajaran ini juga mendorong suasana inklusif, di mana siswa saling menghargai dan belajar dari pengalaman nyata.

“Guru lebih berperan sebagai motivator dan fasilitator,” katanya.

Meski demikian, sekolah juga harus menyiapkan siswa menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA). Salah satu upaya yang dilakukan adalah membiasakan siswa mengerjakan soal berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS).

Selain itu, siswa juga dilatih melalui studi kasus serta penguatan literasi dan numerasi dalam setiap pembelajaran.

Namun, Mulmi mengakui tidak mudah menyeimbangkan antara pembelajaran mendalam dan tuntutan hasil dalam tes standar.

“Keinginan kami tetap memberikan pembelajaran bermakna sangat besar, tetapi karena ada TKA, kami juga harus membiasakan pembahasan soal,” ujarnya.

Ia menyebut, khusus untuk siswa kelas 9, kondisi tersebut terasa lebih nyata. Pada semester awal, pembelajaran masih bisa difokuskan pada pendekatan mendalam.

Namun memasuki semester berikutnya, fokus mulai bergeser pada persiapan menghadapi TKA.

“Semester dua sudah mulai persiapan dengan pembahasan soal-soal dalam pembelajaran efektif,” katanya.(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here