Deep Learning Diterapkan, Siswa SMPN 1 Tangsel Dilatih Pahami Materi Lebih Luas

0
475

Tangerang Selatan, (beritairn.com) – Perubahan pola belajar mulai terasa di SMPN 1 Kota Tangerang Selatan. Siswa kini tidak lagi hanya menerima materi, tetapi didorong aktif memahami dan mengaitkan pelajaran dengan kehidupan nyata seiring diterapkannya pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning).

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 1 Kota Tangerang Selatan, Joko Purnomo, mengatakan penerapan deep learning ditandai dengan perubahan pada perencanaan pembelajaran.

Jika sebelumnya guru menggunakan RPP, kini beralih ke RPM atau Rencana Pembelajaran Mendalam yang dinilai lebih rinci dan terstruktur.

“RPM berisi langkah-langkah pembelajaran yang lebih detail, tidak hanya model pembelajaran, tapi juga mengaitkan materi dengan pelajaran lain dan lingkungan sekitar,” ujar Joko di SMPN 1 Tangsel, Kamis (16/4).

Menurutnya, pembelajaran kini juga diarahkan agar terhubung dengan kondisi nyata, termasuk keterkaitan dengan masyarakat.

Selain itu, guru mulai menggunakan pendekatan penilaian berbasis level SOLO, yang mendorong siswa memahami materi secara bertahap hingga mampu berpikir lebih kompleks.

Sekolah juga telah melakukan sosialisasi kepada guru terkait format baru tersebut, termasuk dalam penyusunan kisi-kisi soal yang mulai diuji coba pada semester ini.

Dalam praktiknya, pembelajaran tidak lagi berdiri sendiri pada satu mata pelajaran. Guru mulai mengaitkan materi dengan bidang lain agar pemahaman siswa lebih luas.

Dari sisi siswa, respons yang ditunjukkan dinilai cukup baik. Siswa mampu mengikuti pembelajaran dengan berbagai metode, baik menggunakan media digital maupun konvensional.

Meski demikian, tidak semua materi bisa sepenuhnya berbasis teknologi. Untuk mata pelajaran tertentu seperti matematika, pembelajaran langsung tetap diperlukan.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 1 Kota Tangerang Selatan, Ida Damayanti, menambahkan bahwa pembelajaran saat ini juga menekankan kemampuan menghubungkan berbagai konsep.

Ia mencontohkan, materi IPA tentang lingkungan dapat dikaitkan dengan nilai-nilai dalam pelajaran lain, seperti pendidikan kewarganegaraan.

Siswa juga mulai dilibatkan dalam praktik langsung, seperti kegiatan berbasis lingkungan, meskipun pelaksanaannya belum merata di semua siswa.

Di sisi lain, sekolah juga harus menyiapkan siswa menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang mulai diterapkan. Joko mengakui, karena kebijakan ini masih baru, siswa masih dalam tahap penyesuaian.

“Kami tetap mempersiapkan melalui guru dengan alokasi waktu dalam pembelajaran. Namun karena TKA baru, siswa masih beradaptasi, apalagi jadwalnya berdekatan dengan libur,” katanya.

Meski demikian, secara umum siswa tetap dapat mengikuti TKA, walaupun sebagian mengaku soal yang dihadapi cukup menantang.

Ida Damayanti menambahkan, tantangan terbesar saat ini adalah menyeimbangkan antara pembelajaran mendalam dan tuntutan tes standar.

Menurutnya, soal TKA kini lebih menekankan analisis berbasis studi kasus, sehingga kemampuan literasi dan numerasi menjadi kunci.

“Bukan lagi sekadar hafalan, tapi analisis. Jadi literasi dan numerasi harus diperkuat,” ujarnya.

Ia juga mengakui bahwa hal tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi sekolah, mengingat masih ada siswa yang kemampuan literasi dan numerasinya perlu ditingkatkan.

Dari sisi guru, adaptasi terhadap perubahan metode dinilai relatif berjalan baik. Namun, sekolah tetap harus terus menyesuaikan strategi pembelajaran agar seimbang antara pemahaman mendalam dan kesiapan menghadapi TKA.(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here