Tangerang Selatan, (beritairn.com) – Nasib ironis dialami Bunga Sekar Anjani (15), atlet sepak bola putri asal Kota Tangerang Selatan (Tangsel) yang saat ini tengah berjuang membawa nama Indonesia di ajang sepak bola internasional di Swedia.
Di tengah perjuangannya mengharumkan nama bangsa, Bunga justru gagal memperoleh kursi di SMA Negeri melalui jalur prestasi nonakademik pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Kegagalan tersebut memicu kekecewaan mendalam dari keluarga maupun Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Kota Tangerang Selatan. Mereka mempertanyakan sejauh mana jalur prestasi benar-benar memberikan ruang bagi siswa yang telah mengukir prestasi hingga tingkat internasional.
Orang tua Bunga, Agus, mengaku sejak awal memilih jalur prestasi nonakademik karena putrinya memiliki berbagai prestasi di bidang olahraga. Menurutnya, peluang masuk melalui jalur domisili sangat kecil karena lokasi tempat tinggal mereka di Lengkong Gudang cukup jauh dari sekolah negeri tujuan.

“Saya memang dari awal memilih jalur prestasi nonakademik karena anak saya punya beberapa prestasi. Kalau lewat jalur domisili peluangnya kecil. Rumah kami di Lengkong Gudang, sementara sekolah negeri yang dituju cukup jauh,” ujar Agus.
Agus juga mengakui kemampuan akademik putrinya tidak terlalu menonjol lantaran selama kelas III SMP lebih banyak mengikuti pemusatan latihan dan berbagai kejuaraan. Karena itu, jalur prestasi menjadi harapan utama keluarga.
Namun, proses pendaftaran justru diwarnai berbagai kendala. Agus mengaku sistem pendaftaran online beberapa kali mengalami gangguan sehingga dirinya harus bolak-balik hingga empat kali ke SMAN 2 Tangerang Selatan hanya untuk menyelesaikan proses verifikasi.
“Saya sudah berkali-kali mencoba secara online tetapi selalu gagal. Akhirnya saya datang langsung ke sekolah. Sampai tiga atau empat kali bolak-balik ke SMAN 2 hanya untuk proses verifikasi,” katanya.
Persoalan kembali muncul saat proses unggah dokumen prestasi. Menurut Agus, sistem hanya memperbolehkan satu sertifikat diunggah, padahal Bunga memiliki banyak piagam kejuaraan, termasuk sejumlah gelar juara pertama di berbagai turnamen.
“Saya membawa beberapa sertifikat langsung ke sekolah agar bisa diverifikasi. Tetapi sertifikat yang kami ajukan terus ditolak karena disebut belum terdaftar di PERNAS. Saya mencoba menggunakan sertifikat SKF tingkat nasional pun tetap ditolak dengan alasan yang sama,” ungkapnya.
Jalan keluar baru ditemukan setelah Agus meminta bantuan pengurus PSSI tingkat provinsi. Berkat rekomendasi tersebut, sertifikat prestasi akhirnya dapat diverifikasi oleh pihak sekolah.
Meski proses verifikasi telah dinyatakan selesai, harapan keluarga kembali pupus saat hasil seleksi diumumkan. Nama Bunga dinyatakan tidak lolos di SMAN 2 Tangerang Selatan.
“Saya kira setelah verifikasi selesai semuanya aman. Tetapi saat hasil diumumkan, anak saya tetap tidak diterima. Hasilnya juga baru muncul setelah menunggu hampir setengah hari tanpa ada penjelasan kenapa tidak diterima,” tuturnya.
Agus kemudian mencoba mendaftarkan putrinya ke SMAN 7 Tangerang Selatan sebagai pilihan berikutnya. Namun hasilnya tetap sama.
“Saya daftar sejak pagi. Menunggu sampai siang, sore, bahkan hampir pukul 23.00 malam. Nama anak saya tidak juga muncul dalam sistem. Akhirnya hasilnya tetap tidak diterima,” katanya.
Kekecewaan juga disampaikan Ketua PSSI Kota Tangerang Selatan, Muhammad Iyon. Menurutnya, seluruh persyaratan administrasi Bunga telah dipenuhi, mulai dari sertifikat prestasi hingga surat rekomendasi dari cabang olahraga dan KONI Kota Tangerang Selatan.
“Dari awal kami daftarkan ke SMAN 2 Tangerang Selatan tidak ada respons. Kemudian kami coba alternatif kedua ke SMAN 7 Tangerang Selatan, hasilnya juga nihil. Berkasnya tidak dilihat, bahkan tidak disentuh sejak jauh-jauh hari,” ujar Iyon.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi ironi bagi dunia olahraga. Di satu sisi pemerintah mendorong lahirnya atlet berprestasi, namun di sisi lain mereka dinilai belum mendapatkan dukungan yang memadai dalam memperoleh akses pendidikan.
“Kalau anak berprestasi saja ditolak, lalu apa visi dan misi sekolah tersebut? Kami bekerja keras membina atlet agar bisa mengangkat nama baik daerah. Tetapi setelah mereka berprestasi, dukungan dari dunia pendidikan justru tidak ada,” tegasnya.
Iyon mengaku kini harus menghadapi kekecewaan para orang tua atlet binaan yang berharap prestasi anak-anak mereka mendapatkan penghargaan melalui jalur pendidikan.
Ia juga meminta Gubernur Banten mengevaluasi pelaksanaan SPMB yang dikelola Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, khususnya di wilayah Kota Tangerang Selatan.
“Saya khawatir kalau kondisi ini terus dibiarkan akan muncul dugaan praktik jual beli bangku sekolah. Ini bertentangan dengan semangat sekolah gratis yang selama ini digaungkan. Gratis saja sulit, apalagi untuk siswa berprestasi,” ujarnya.
PSSI Kota Tangerang Selatan berharap sepulang Bunga dari ajang internasional di Swedia, Pemerintah Provinsi Banten dapat memberikan apresiasi dengan membuka kesempatan bagi atlet tersebut untuk mengenyam pendidikan di SMA Negeri sebagai bentuk penghargaan atas perjuangannya membawa nama Indonesia.
Kasus ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas jalur prestasi nonakademik dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Di tengah upaya pemerintah mencetak atlet-atlet berprestasi, kisah Bunga menjadi sorotan karena prestasi hingga level internasional ternyata belum mampu menjamin akses pendidikan melalui jalur yang memang disediakan bagi siswa berprestasi.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMAN 2 Tangerang Selatan, SMAN 7 Tangerang Selatan, maupun Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Wilayah Kota Tangerang Selatan, Teguh Setiawan, belum memberikan keterangan resmi terkait persoalan tersebut.(red)



