Jakarta, (beritairn.com)– Pembelajaran membaca dan menghafal Al-Qur’an di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dilakukan secara bertahap sesuai jenjang kelas. Setelah siswa kelas 1 hingga kelas 3 mendapatkan penguatan melalui metode Tilawati, memasuki kelas 4 pembelajaran dilanjutkan dengan pembiasaan tadarus dan penguatan hafalan.

Guru MI Pembangunan UIN Jakarta, Ms Ai Yuliawati, S.Pd., sebelumnya menjelaskan bahwa pembelajaran Tilawati menjadi bagian dari rutinitas siswa kelas 1 hingga kelas 3 setiap pagi.

Kegiatan tersebut dilaksanakan Senin hingga Jumat, mulai sekitar pukul 07.15 WIB hingga 08.20 WIB. Guru memberikan contoh bacaan terlebih dahulu, kemudian siswa membaca secara bergiliran dalam kelompok.

Untuk siswa kelas 1, terdapat target pembelajaran bertahap hingga mampu menyelesaikan dua jilid dalam satu tahun dan naik ke jilid 3. Sementara itu, siswa yang masih mengalami kesulitan mendapatkan pendampingan tambahan melalui program yang disebut “kelas bengkel”.

Memasuki kelas 4, pola pembelajaran membaca Al-Qur’an kemudian berkembang ke tahap tadarus.

Wali Kelas 4E MI Pembangunan UIN Jakarta, Roni Asfar, S.Pd., mengatakan tadarus menjadi salah satu bentuk penguatan kemampuan membaca sekaligus menghafal Al-Qur’an.

“Untuk tadarus adalah salah satu untuk penguatan dalam membaca dan menghafal. Apalagi untuk menghafal tanda baca,” ujar Roni.

Dari Membaca hingga Mendukung Hafalan

Menurut Roni, kemampuan membaca Al-Qur’an menjadi dasar penting bagi siswa untuk mengikuti pembelajaran lainnya, terutama pelajaran yang berkaitan dengan tafsir dan hafalan ayat.

Karena itu, pembiasaan membaca tidak hanya dilakukan ketika siswa berada di sekolah, tetapi juga diharapkan terus dilakukan di rumah.

“Untuk membiasakan diri di rumah, jadi bukan hanya ada di sekolah, tapi di rumah pun tetap harus bisa membaca,” katanya.

Ia menjelaskan, kemampuan membaca memiliki keterkaitan dengan pelajaran tafsir. Siswa akan lebih mudah mengikuti materi dan menghafal ayat Al-Qur’an apabila kemampuan membacanya sudah baik.

“Bagaimana bisa menghafal ayat-ayat Al-Qur’an kalau membacanya masih kurang. Jadi penguatannya ada di tadarus,” jelas Roni.

Dengan demikian, tadarus tidak hanya diarahkan sebagai aktivitas membaca bersama, tetapi juga menjadi bagian dari proses membangun kemampuan siswa dalam membaca, memahami tanda baca, dan mendukung hafalan Al-Qur’an.

Tadarus Dilakukan Hampir Setiap Hari

Roni mengatakan kegiatan tadarus dilakukan hampir setiap hari sebagai bagian dari pembiasaan siswa.

Selain kegiatan rutin tersebut, siswa juga mendapatkan pembelajaran khusus dalam mata pelajaran tadarus yang ditangani oleh guru yang memang memiliki tugas khusus dalam pembelajaran tersebut.

“Jadwalnya hampir setiap hari. Yang kedua ada pembelajaran khusus di pelajaran tadarus dan itu guru tadarus,” ujarnya.

Pembiasaan tersebut diharapkan membuat siswa semakin terbiasa berinteraksi dengan Al-Qur’an, baik melalui kegiatan membaca maupun menghafal.

Siswa yang Belum Tuntas Tetap Mendapat Pendampingan

Meski siswa kelas 4 secara umum telah memasuki tahap yang lebih mahir, sekolah tetap memberikan perhatian kepada siswa yang belum menyelesaikan tahapan pembelajaran di kelas sebelumnya.

Roni menjelaskan, masih terdapat kemungkinan siswa yang ketika berada di kelas 3 belum menuntaskan pembelajaran Tilawati hingga jilid 6.

Siswa tersebut tidak langsung ditinggalkan, tetapi mendapatkan penguatan melalui kelas bengkel dengan pendampingan guru khusus tadarus.

“Sebagian yang memang belum bisa ikut tadarus, kami menyediakan kelas-kelas bengkel, yaitu untuk memperbaiki yang dari kelas 3 belum tamat dalam membaca sampai Tilawati 6 dan akan diulang lagi di kelas 4, tetapi di kelas bengkel,” ungkapnya.

Kelas bengkel menjadi ruang pendampingan bagi siswa yang membutuhkan waktu dan perhatian lebih dalam memperbaiki kemampuan membaca Al-Qur’an sebelum mengikuti pembelajaran bersama teman-temannya secara optimal.

Siswa Kelas 4 Mulai Mahir

Untuk kemampuan siswa kelas 4 secara umum, Roni menilai sebagian besar siswa sudah berada pada tahap mahir dalam membaca Al-Qur’an.

Ia mengatakan, setelah masuk kelas 4, siswa umumnya telah memiliki kemampuan dasar yang cukup untuk mengikuti kegiatan tadarus.

“Untuk di kelas 4 kebetulan saya sudah masuk di satu per dua (tingkat) mahir dan mahir. Jadi tidak menemui kendala,” kata Roni.

Menurutnya, siswa yang masih menghadapi kendala lebih banyak mendapatkan perhatian melalui kelas bengkel dengan guru khusus tadarus.

Pada tahap mahir, siswa diharapkan telah mampu mengenali dan membedakan tanda baca serta memahami cara membaca huruf dengan makhraj yang tepat.

Kemampuan tersebut menjadi bekal penting sebelum siswa memasuki materi Al-Qur’an yang lebih kompleks, termasuk hafalan dan pembelajaran yang berkaitan dengan tafsir.

Pembelajaran Dibangun Secara Bertahap

Tahapan pembelajaran tersebut menunjukkan adanya kesinambungan antara pendidikan Al-Qur’an di kelas awal dengan pembelajaran pada jenjang berikutnya.

Di kelas 1 hingga kelas 3, siswa dibiasakan membaca melalui metode Tilawati dengan target kenaikan jilid secara bertahap. Sementara memasuki kelas 4, kemampuan tersebut diperkuat melalui tadarus, hafalan, penguasaan tanda baca, dan pembiasaan membaca Al-Qur’an di rumah.

Bagi siswa yang masih membutuhkan penguatan, sekolah menyediakan kelas bengkel sebagai bentuk pendampingan tambahan.

Dengan pola tersebut, pembelajaran Al-Qur’an di MI Pembangunan UIN Jakarta tidak hanya berorientasi pada kemampuan siswa membaca, tetapi juga membangun kebiasaan, ketepatan pelafalan, kemampuan menghafal, serta keterhubungan antara membaca Al-Qur’an dengan materi pembelajaran lainnya.