SMPN 16 Tangsel Terapkan Deep Learning, Siswa Dilatih Berpikir Lebih Kritis

0
483

Tangerang Selatan, (beritairn.com) – Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) mulai diterapkan di sejumlah sekolah, termasuk SMPN 16 Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Di tengah perubahan metode belajar ini, siswa tidak hanya dituntut memahami materi secara lebih dalam, tetapi juga tetap harus siap menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai standar nasional.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMPN 16 Kota Tangerang Selatan, Ikin Sadikin, mengatakan pendekatan deep learning mulai diterapkan pada tahun ini. Pembelajaran difokuskan pada tiga pilar utama, yakni pembelajaran bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan.

“Pembelajaran mendalam kami fokus pada meaningful learning, mindful learning, dan joyful learning,” kata Ikin di SMPN 16 Kota Tangsel, Selasa (14/4/26).

Menurutnya, perubahan paling terasa ada pada metode mengajar guru yang kini lebih interaktif. Jika sebelumnya pembelajaran cenderung satu arah, kini siswa dilibatkan secara aktif dalam memahami materi.

“Metode pembelajaran berubah dari konvensional menjadi interaktif. Siswa tidak hanya menjadi objek, tapi diajak memahami mengapa dan bagaimana suatu materi dipelajari,” ujarnya.

Dari sisi siswa, respons yang muncul dinilai cukup positif. Siswa mulai terbiasa melihat materi dari berbagai sudut pandang dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Namun, tidak semua siswa langsung beradaptasi. Ikin mengakui masih ada siswa yang kesulitan karena terbiasa belajar dengan pola hafalan dan bergantung pada buku teks.

“Masih ada kendala bagi siswa yang belum siap dengan pendekatan ini, kecenderungannya mereka hanya fokus pada materi di buku,” katanya.

Di sisi lain, sekolah juga harus menyiapkan siswa menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang mulai diperkenalkan sebagai alat ukur standar nasional. Untuk itu, sekolah memberikan pembekalan tambahan tanpa menambah beban jam belajar.

Sekolah menyediakan buku pendamping untuk belajar di rumah, serta mengalokasikan satu jam pelajaran dalam kegiatan belajar utama untuk penguatan materi.

“Tidak ada penambahan waktu khusus untuk TKA, tapi kami integrasikan dalam pembelajaran,” jelasnya.

Upaya menyeimbangkan antara pembelajaran mendalam dan tuntutan tes standar menjadi tantangan tersendiri. Guru diminta menyesuaikan model pembelajaran dengan bentuk soal TKA yang menuntut pemahaman lebih kompleks.

Salah satunya dengan membiasakan siswa menghadapi soal berbasis ilustrasi panjang dan variasi bentuk soal, seperti pilihan ganda kompleks, menjodohkan, hingga benar-salah.

“Guru membiasakan siswa membaca lebih panjang, lebih dalam, dan soal dibuat lebih variatif menyerupai TKA,” kata Ikin.

Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan cara belajar di sekolah tidak hanya soal memahami materi secara mendalam, tetapi juga bagaimana siswa tetap mampu beradaptasi dengan sistem evaluasi yang terus berkembang.

Di tengah transisi ini, kesiapan siswa menjadi kunci, sekaligus ujian bagi sekolah dalam menyeimbangkan antara pembelajaran yang bermakna dan tuntutan capaian akademik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here