BANJARNEGARA – Tradisi menganyam tikar pandan di Dusun Mawangi, Desa Somawangi, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, masih bertahan hingga kini. Di balik ketekunan para pengrajin menjaga warisan turun-temurun tersebut, tersimpan persoalan ekonomi yang membuat mereka sulit berkembang.
Di sebuah rumah sederhana di Dusun Mawangi, Mbah Wariem (70) bersama sejumlah ibu rumah tangga masih tekun mengolah daun pandan pudak menjadi tikar atau klasa. Daun dipotong, dibesut atau dihaluskan, dijemur hingga kering, kemudian dianyam satu per satu dengan penuh ketelitian.
Bagi masyarakat setempat, menganyam tikar bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Kerajinan tersebut telah diwariskan antargenerasi dan menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.
Namun, keberlangsungan usaha tradisional itu menghadapi berbagai persoalan. Harga jual yang rendah, biaya bahan baku, keterbatasan pemasaran, serta ketergantungan terhadap pengepul membuat posisi tawar para pengrajin masih lemah.
Kondisi tersebut menjadi semakin berat karena sebagian warga mengandalkan kerajinan tikar sebagai sumber pendapatan. Terlebih, kondisi geografis wilayah yang rawan kekeringan dan terbatasnya lapangan pekerjaan membuat pilihan mata pencaharian masyarakat tidak banyak.
Ketergantungan kepada Pengepul
Ketergantungan terhadap pengepul tidak hanya terjadi saat menjual hasil produksi. Sebagian pengrajin juga mengandalkan pengepul ketika membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam kondisi tertentu, pengrajin dapat meminjam uang atau mengambil kebutuhan pokok terlebih dahulu. Utang tersebut kemudian dibayar menggunakan tikar yang telah selesai dianyam.
“Umpama ora duwe, ya nyilih dhisik. Mengko dituker karo klasa,” tutur Mbah Wariem.
Pola tersebut memang memberikan kemudahan ketika pengrajin membutuhkan uang secara mendesak. Namun, di sisi lain, hubungan tersebut membuat pengrajin cenderung terikat dengan pengepul tertentu dan tidak leluasa mencari pasar dengan harga yang lebih baik.
Akibatnya, harga jual lebih banyak mengikuti mekanisme yang ditentukan pengepul, bukan berdasarkan perhitungan biaya produksi dan harga pasar.
Persoalan tersebut semakin terasa karena proses pembuatan tikar membutuhkan waktu cukup panjang.
Untuk menghasilkan satu lembar tikar berukuran 125 x 175 sentimeter, pengrajin membutuhkan waktu hingga tiga hari, mulai dari memperoleh bahan baku, memotong daun, membesut, menjemur hingga menganyam.
Jika bahan sudah tersedia, pengrajin yang terampil sebenarnya mampu menghasilkan dua hingga tiga lembar tikar dalam sehari. Namun, harga jual yang diterima masih relatif rendah.
“Siki regane mung Rp28.000 selembar. Niku pun mentok,” ujar Siswandi, Ketua RT setempat, saat ditemui Rabu (19/8/2026).
Sementara itu, harga satu gulung bahan baku pandan dapat mencapai sekitar Rp80.000 dan diperkirakan menghasilkan enam hingga delapan lembar tikar.
Dengan proses produksi yang panjang dan harga jual terbatas, keuntungan bersih yang diperoleh pengrajin pun menjadi relatif kecil.
Produk Turunan Belum Mampu Menembus Pasar
Upaya meningkatkan nilai ekonomi kerajinan sebenarnya telah dilakukan. Pengrajin pernah didorong untuk mengembangkan produk turunan berbahan pandan, seperti tas, dompet hingga tempat tisu.
Sayangnya, inovasi tersebut belum berkembang maksimal karena terkendala pemasaran.
“Pengrajin kalau disuruh bikin produk lain sebenarnya bisa, tetapi menjualnya yang tidak bisa. Pengepul tidak mau menampung selain tikar. Yang mengajari dulu tidak bertanggung jawab untuk akses pasarnya,” ungkap Siswandi.
Kondisi tersebut membuat pengrajin kembali memproduksi tikar tradisional yang pasarnya relatif sudah tersedia, meskipun harga jualnya belum memberikan keuntungan yang memadai.
Persoalan kelembagaan juga menjadi tantangan. Belum kuatnya kelompok usaha bersama, terbatasnya akses pasar di luar daerah, serta minimnya kemampuan pemasaran menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian.
Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat memberikan intervensi yang lebih konkret, mulai dari penguatan kelembagaan, pembentukan koperasi, pendampingan produksi, peningkatan nilai jual, hingga membuka akses pasar yang lebih luas.
Pemdes Dorong Regenerasi Pengrajin
Kepala Desa Somawangi, Sigro Pranantyo, mengatakan pemerintah desa terus berupaya memfasilitasi masyarakat agar tradisi menganyam tikar pandan dan pudak tetap bertahan.
Menurutnya, kerajinan tersebut bukan hanya warisan leluhur, tetapi telah menjadi identitas Desa Somawangi sekaligus salah satu penggerak ekonomi keluarga, khususnya bagi ibu rumah tangga di Dusun Mawangi.
“Kami bersyukur, roda ekonomi ini digerakkan oleh para pengepul lokal, warga kita sendiri, yang benar-benar memahami karakter, kerja keras, dan kebutuhan para pengrajin di lapangan. Sinergi yang erat ini menjadi kunci agar tradisi luhur ini tetap hidup, berdaya saing, dan tidak tergerus zaman,” ujarnya.
Selain mempertahankan pengrajin yang masih aktif, pemerintah desa juga berencana mendorong regenerasi dengan melibatkan generasi muda.
Pendampingan dan motivasi dinilai penting agar keterampilan menganyam pandan tidak berhenti pada generasi saat ini.
Disperindagkop Siap Berikan Pendampingan Lanjutan
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Kabupaten Banjarnegara melalui Kepala Bidang Perindustrian, Yusep Handoko, mengatakan kerajinan tikar pudak atau pandan di Dusun Mawangi sebenarnya telah mendapat perhatian pemerintah daerah.
Pada 2022, Bidang Perindustrian pernah memfasilitasi para pengrajin mengikuti kegiatan magang dan pelatihan selama tiga hari di Tasikmalaya.
Menurut Yusep, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kapasitas para pengrajin. Namun, karena pembinaan telah berlangsung beberapa tahun lalu, diperlukan pendampingan lanjutan agar pengembangan kerajinan dapat kembali berjalan.
“Kami sangat menyambut baik jika para perajin kembali mengajukan permohonan pendampingan. Prinsipnya, kami siap kembali membina dan memfasilitasi mereka, khususnya dalam penguatan kapasitas produksi, perluasan jejaring pemasaran, serta pelatihan lanjutan agar para perajin memiliki daya saing dan kemampuan pemasaran digital yang lebih baik,” katanya.
Yusep berharap pembinaan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan produksi, tetapi juga menyentuh aspek pemasaran dan pengembangan produk.
Dengan dukungan pemerintah dan akses pasar yang lebih luas, tikar pandan khas Mawangi diharapkan mampu memiliki nilai tambah dan memberikan penghasilan yang lebih layak bagi para pengrajinnya.
Gemerisik daun pandan yang setiap hari dianyam di Dusun Mawangi akhirnya bukan sekadar suara dari sebuah tradisi yang masih bertahan. Di baliknya terdapat harapan agar warisan leluhur tersebut dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Leave a Reply Cancel reply